di sebuah gubuk kecil beratap jerami yg telah berlubangentah mengapa langkah kakiku pagi itu terasa penuh tanda tanya
dalam tujuan yg tak jelas aku membawa dua bungkus nasi dan beberapa lauk pauk juga air madu yang kubawa setiap ingin hiking ke dalam ranselku
berjalan menuju tempat yang dulu pernah menjadi tempat kenangan sebagian kisah cintaku
dan entah mengapa kurasa telah lama tempat ini aku tinggalkan
tempat yang dulu begitu indah..
dimana terdapat filosofi besar dalam bagi diriku..
semua berubah.
mengapa???
aku berjalan ke arah sawah dekat sungai tempatku dulu sering memandang kokohNya tebing cupu untuk menyadarkan keangkuhanku agar aku tak terhanyut dalam pujian dunia
terus kususuri jalan itu.
terhenyak hatiku melihat sesosok wanita yang sedang mencoba menghanyutkan anak bayi yang kulihat menangis kencang, sejenak kuperhatikan apa yang terjadi dan berjalan tenang ke arah hilir sungai agar tak mengganggu ibu itu.
akhirnya aku dapat melihat wajah ibu yang sedang menangis.
dengan berat iya menghanyutkan bayi itu di iringi tangis yang begitu mendalam.
ia pun berlari seolah tak sasnggup melihat anaknya hanyut dalam keranjang yang trebawa arus sungai itu.
ketakutan mendera diriku, entah fikiran dari mana membuatku lompat ke sungai dan mengambil bayi itu.
setelah mengambilnya kembali pertanyaan yang aku dapatkan, mau aku apakan bayi ini???
apa harus ku buang begitu saja dan kembali berpura-pura tidak tau??
apa haru ku berikan pada orang yang membutuhkan??
dalam kebingungan aku mengambil kain di ranselku dan membungkus bayi yang kedinginan itu
berjalan tanpa arah sambil menggendongnya dan iya kulihat ibu itu bersama anak lelakinya yang tertidur di gubuk kecil yang beratap jerami yang telah berlubang. aku tak mencoba mendekat karena suara bayi ini pasti terdengar dan ku tak mau merusak semuanya, ide gilaku mencoba mencelupkan jariku pada bayi itu agar tenang
kulihat ibu itu masiy tersendat menangis kecil agar tak membangunkan putranya.
ku coba menjauh dan menenangkan bayi itu, bayi perempuan yang kulihat cantik dan lucu.
fikiran aneh masuk, entah ide dari mana fikiran itu kudapat, aku memberi air madu yang kubawa dan mencoba meminumkan pada bayi itu dan iyah iya terlihat tenang dan aku melihat senyum di saat-saat ia mulai tertidur.
kembali ku berfikir, di bawah langit mendung aku tak dapat tinggal diam, setidaknya aku harus dapat membawa bayi ini
ya aku harus menghampiri ibu itu dan bertanya semua yang kulihat dan terjadi di hadapanku
aku mendekat dan menyapanya, ibu itu diam dan seolah ingin membunuhku dalam sorot matanya yang tajam
maaf bu, ini anak ibu, mengapa ibu tega membbuangnya??
siapa kamu apa urusan kamu??
kalo memang itu anak saya apa urusan kamu??
terserah saya ingin saya apakan.
anak lelakinya terbangun dan menangis, aku terdiam dan menerima semua gertakannya yang makin lama bercampur tangis itu.
ku mencoba mendekat dan dan merangkulnya.
iya buu saya mengerti, apa ibu ingin bercerita kepada saya mengapa ibu tega membuang anak ibu ini??
iya pun bercerita dalam tangis bahwa iya dulu memiliki suami yang akhirnya meninggalkannya karena penyakit dan iya mengasuh anak lelakinya sendiri dan mencari nafkah dengan mejual diri hingga akhirnya bayi perempuan itu lahir entah dari lelaki mana yang pernah ia temani.
terhenyak sejenakku mendengar ceritanya, dan tefikir olehku sebuah buku karya khalil gibran yang dulu pernah kubaca tentang seorang wanita panggilan yang akhirnya mengasingkan diri hingga mati di gurun pasir.
buu, apa ibu tak menginginkan anak ini??
bukan!!! aku hanya tak ingin din saat besar nanti iya akan menjadi seorang wanita sepertiku aku tak ingin melihat iya di jamah lelaki yang hanya ingin kenikmatan dan mengangap semua wanita dapat iya beli dan aku tak ingin iya rusak karena karma dari diriku yang terlanjur menjadi wanita panggilan ini.
aku hanya diam dan mengeluarkan isi ranselku dan kuberikan semua makanan kepadanya.
makanlah buu.
lalu ibu ikut saya.
setelah selesai makan ibu itu bertanya, mau kemana, apa kamu mau memasukan saya ke penjara??
aku tertawa dan berkata : ibuuu, tidak semua orang di dunia ini akan berprilaku sama seperti yang ada dalam fikiran ibu.
saya bukan lelaki baik, namun saya tak kan tega menambah kesengsaraan ibu.
hujanpun turun, aku yakin saat ini tepat membawa ibu itu dan kedua anaknya.
karena di saat hujan pasti tidak akan ada orang yang melihat kami.
dalam hujan aku dan ibu beserta kedu anaknya berjalan dan menaiki angkutan umum.
aku ingat suatu tempat yang pasti dapat menampungnya sementara.
akhirnya kami sampai dan mereka kutitipkan dirumah saudaraku yang pastinya bisa menampung mereka sementara ini.
dan ku berkata pada ibu itu agar menetap disana dan sedikit membantu dan jangan pergi sebelum saya kembali kesana.
akupun menceritakan semua kepada saudaraku dan dengan senang hati iya membantu walau hanya sementara.
dan kedepan apa yang dapat saya lakukan untuk ibu dan anaknya tersebut, inilah beban saya saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar